Bahagia Sesungguhnya Adalah Ketika Hati Dekat dengan Allah


Bahagia Sesungguhnya Adalah Ketika Hati Dekat dengan Allah

Semoga yang memb4gikan ini selalu dimurahkan rezekinya, Aamiin

HAKIKAT manusia adalah mencari kebahagiaan. Tapi, sering kali setelah semua yang diinginkan tercapai seperti harta, kekayaan, karir cemerlang, bahkan istri yang cantik, banyak juga orang belum merasa bahagia. Hatinya masih terus diliput gundah gulana dan merasa kekurangan.

Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr Didi Junaedi mengatakan, bahagia itu terletak pada hati yang tenang, jiwa yang lapangan, dan batin yang tentram.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah Ar Ra’du Ayat 28 yang artinya “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Bahagia tidak identik dengan harta yang melimpah, kedudukan dan jabatan yang wah, popularitas yang menjulang, atau karir yang cemerlang. Bahagia itu sederhana. Hati yang penuh syukur, jiwa yang penuh sabar, batin yang penuh ikhlas, adalah pangkal bahagia tak terukur, tak terbatas.

“Ironinya, banyak orang mencari kebahgiaan, tetapi menempuh jalan yang salah. Apa yang mereka dapatkan sesungguhnya adalah kesenangan (sesaat), bukan kebahagiaan (hakiki),” tulis Didi Junaedi dalam sebuah kolom seperti dikutip dari laman jaringansantri.com.

Ada orang yang menganggap bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan kelimpahan materi. Maka, ia pun segera menyusun langkah untuk menempuh jalan yang menurutnya dapat mengantarkan kepada kebahagiaan.

Bekerja keras siang-malam, memeras keringat, banting tulang, tak kenal waktu, terus menerus berusaha mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, menumpuk materi, terkadang tanpa peduli halal-haram, demi memenuhi obsesinya untuk dapat hidup bahagia.

Adapula orang yang mengandaikan bahwa kebahagiaan bisa didapat dengan popularitas. Maka, ia pun segera menempuh berbagai cara untuk mendapatkan popularitas, dengan harapan setelah popularitas diraih, ia akan dengan mudah memperoleh kebahagiaan hidup.

Pun ada orang yang mengira kebahagiaan dapat terwujud jika ia dapat menempati suatu posisi atau kedudukan tertentu.

Tak ayal, dia pun berjuang mati-matian untuk dapat menduduki suatu posisi atau jabatan tertentu, dengan asumsi bahwa setelah impiannya untuk duduk di ‘kursi’ yang diidam-idamkannya selama ini terwujud, kebahagiaan yang diharapkan akan tercapai.

“Pertanyaannya kemudian, apakah setelah mereka mendapatkan harta yang berlimpah, fasilitas hidup yang serba lengkap, popularitas, serta menduduki posisi strategis, secara otomatis mereka merasakan kebahagiaan? Jawabannya adalah : Belum tentu,” kupas penulis buku motivasi Islami ini.

Ya, apa yang mereka dapatkan sesungguhnya adalah kesenangan yang bersifat sementara. Mereka senang dan puas sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tetapi, seringkali kesenangan dan kepuasan itu hanya sesaat saja, kerena setelah apa yang mereka inginkan tercapai, selanjutnya hanya kehampaan jiwa serta kekosongan makna hidup yang mereka rasakan.

Harta yang melimpah, kedudukan dan jabatan yang terhormat, serta popularitas yang menjulang, tanpa diiringi dengan ketenangan hati, ketenteraman batin, serta kedamaian jiwa, hanya akan melahirkan kehampaan dan kekosongan makna hidup.

LihatTutupKomentar

About Blog