Kisah Miris Keluarga di Solo 5 Tahun Tinggal di Bekas Gudang Es, Tak Layak Huni dan Angker


Kisah Miris Keluarga di Solo 5 Tahun Tinggal di Bekas Gudang Es, Tak Layak Huni dan Angker

astagfirullahal'azim, kasihan sekali

Semoga yang memb4gikan ini selalu mendapat perlindungan dan mendapat rezeki yang berlimpah, Amin 

Agus Prayitno (35) bersama istri, Kecup Ani Noviyanti (36) dan tiga anaknya yang masih kecil tinggal di bangunan bekas gudang es di kawasan Jajar, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Mereka tinggal di bangunan tak layak huni tersebut sudah sekitar lima tahun atau tepatnya pada akhir 2015.

Bangunan berukuran 10 x 6 meter persegi dikelilingi oleh tumbuhan semak belukar. Tembok bangunan bekas gudang es sudah terlihat lusuh dan berjamur karena dimakan usia. Begitu juga dengan kondisi atapnya sudah berkarat dan berlubang.

Bagian pintu bangunan bekas gudang es terbuat dari seng tanpa engsel. Untuk membukanya tidak bisa langsung, harus diangkat terlebih dahulu.

Bangunan ini tidak ada sekat antarruang. Dari dapur, ruang tamu, tempat tidur semuanya menjadi satu.

Agus dan keluarga tidur beralas kasur tipis yang diletakkan di lantai. Agus mengatakan pertama kali menempati bangunan bekas gudang es tersebut sering melihat penampakan hantu.

Selain itu, lanjut Agus, kalau malam hari juga banyak nyamuk karena sekitar bangunan dikelilingi oleh ditumbuhi semak belukar. "Partama-tama di sini itu sering melihat ada penampakan hantu.

Tapi lama-lama sudah terbiasa," kata Agus ditemui Kompas.com di bangunan bekas gudang es, Selasa (16/6/2020). Agus mengku terpaksa menempati bangunan bekas gudang es karena merasa kasihan dengan ketiga anaknya.

Awalnya, Agus dan keluarga tinggal di sebuah rumah indekos di kawasan Karangasem, Laweyan. Karena indekos tersebut sama pemiliknya mau dijual, Agus yang saat itu masih menganggur karena belum dapat pekerjaan harus mencari tempat tinggal baru.

Karena keterbatasan ekonomi, Agus akhirnya menempati bangunan bekas gudang es tak layak huni tersebut sebagai tempat tinggal sampai sekarang.

"Cari kerjaan belum dapat. Dari pada tidak dapat tempat tidur mendingan saya dan keluarga menempati bangunan ini. Saya kasihan sama anak-anak. Saya punya anak tiga. Pertama usianya delapan tahun, lima tahun dan 1,5 tahun," terang pria kelahiran tahun 1985 itu.

Bangunan bekas gudang es tersebut menjadi pilihan terakhir karena ia tidak punya biaya untuk tinggal indekos atau mengontrak rumah. Sebelum menikah tahun 2010, Agus mengaku berprofesi sebagai pengamen dan tinggal di bangunan bekas gudang es tersebut.

"Dulunya saya pengamen di daerah sekitar sini. Jadi setiap hari saya tidur di sini. Jadi saya tahu lokasi ini karena dulunya pernah di sini," kata Agus.

Agus berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dengan membuka jasa tambal ban tak jauh dari tempat tinggal tepatnya di Jalan Profesor Dokter Soeharso.

Tapi, usahanya itu tidak berjalan dengan lama. Setelah itu, Agus mendapat tawaran kerja di tempat angkringan atau wedangan. Setiap hari Agus berangkat mulai pukul 14.30 WIB dan pulang pukul 00.00 WIB. "Setiap hari saya dapat upah Rp 60.000.

Tapi, uangnya diberikan setiap satu minggu sekali. Uang itu saya buat beli makan dan biaya hidup keluarga sehari-hari," tutur dia. Agus memgaku sudah sekitar empat tahun ikut bekerja di tempat wedangan tersebut.

"Saya difasilitasi sepeda motor sama pemilik wedangan. Jadi sekarang tidak lagi pakai sepeda kayuh. Berangkat pakai sepeda motor," ungkap dia.

Disinggung apakah pernah mendapat bantuan dari pemerintah, Agus mengatakan belum pernah. Meskipun demikian, Agus tidak terlalu berharap banyak dengan bantuan pemerintah tersebut. Bagi Agus adalah dirinya bisa bekerja dan mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari sudah bersyukur.

"Belum pernah dapat bantuan. Saya tidak dapat bantuan tidak masalah yang penting berani bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga," cetus Agus. Terpisah, Lurah Jajar Jati Utama mengatakan, Agus dan keluarganya sudah lama tinggal di bangunan bekas gudang es.

Agus diketahui masih berpenduduk asli Kelurahan Kerten. Jati menambahkan, dirinya pernah mengusulkan bantuan untuk keluarga Agus. Tetapi, karena masih berpenduduk Kelurahan Kerten akhirnya tidak bisa.

Pihaknya juga mengaku pernah meminta Agus untuk mengurus perpindahan KTP dan KK dari Kerten ke Jajar. Tapi, sampai sekarang belum dilakukan. "Sebenarnya saya ingin mengajukan sembako buat dia. Tapi dilihat status KK-nya kok penduduk Kerten masih jadi satu sama ibunya (Agus). Dan, ibunya di Kerten itu dapat BST (bantuan sosial tunai)," terang dia.

LihatTutupKomentar

About Blog