Kisah Bocah NTT Hidup Sebatang Kara, Orang Tua Merantau dan Tak Dapat Kiriman Uang karena Corona


Sedih mendengarnya, Kisah Bocah NTT Hidup Sebatang Kara

Orang Tua Merantau dan Tak Dapat Kiriman Uang karena Corona

Selama pandemi virus corona semakin luas, banyak kisah sedih yang datang dari rakyat kecil. Mulai dari tukang ojol, tukang kuli bangunan, bahkan sampai pedangan kaki lima yang hanya menggantungkan penghasilan harian.

Kali ini, kisah sedih lainnya datang dari seorang bocah SD di NTT. Melansir dari Merdeka.com, begini kisahnya.

Namanya bocah ini adalah Mersi Kase. Ia adalah seorang bocah perempuan yang bersekolah di SDN Oevetnai, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Keluarganya bisa dibilang berasal dari keluarga kurang mampu. Makanya agar kondisi keluarganya menjadi lebih baik, orangtuanya memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Dan Merci? Dia hidup seorang diri di rumahnya, NTT, sejak ia duduk di kelas tiga SD.

" Bapak ingin memperbaiki rumah dan ingin saya bisa sekolah, makanya merantau cari uang," ujar Merci polos saat ditemui.

Sejak orangtua pergi merantau, Merci selalu dikirimi uang sekitar Rp 100.000 hingga Rp. 200.000 setiap bulannya. Ia menggunakan uang itu untuk memenuhi keperluan sekolah dan kebutuhan perutnya di rumah.

Namun, karena wabah corona covid-19, Merci tak lagi menerima kiriman uang. Kedua orangtunya dirumahkan oleh perusahaan yang katanya perusahaan kelapa sawait. Jadi, orangtunya tak dapat uang. Ditambah lagi, kedua orang tuanya tak bisa pulang menemani Merci di rumah karena adanya larangan mudik oleh pemerintah.

Karena itu, Merci menggantungkan kebutuhan perutnya seadanya. Kadang ia hanya makan jagung, syukur tetangga biasa memberi.

Meski kondisi yang sedemikian pilu, semangat hidup Merci sebagai manusia dan semangat belajar sebagai seorang pelajar tak pernah padam. Di sekolah, Merci pun dikenal sebagai siswi berprestasi. Ketika pemerintah meminta untuk belajar di rumah, ya di benar-benar belajar di rumah, bukannya main dan leha-leha.

Bahkan ketika kondisi desanya yang masih banyak rumah tak berlistrik seperti rumahnya, ia tetap semangat belajar. Bahkan cita-citanya pun sangat mulia yaitu menjadi seorang dokter.

" Saya dari kelas satu sudah biasa belajar pakai pelita. Kalau jam tidur dimatikan, agar hemat minyak tanah," kata Merci. " Biar pakai pelita, tetapi saya dari kelas satu sampai kelas enam, selalu juara satu atau dua. Saya ingin jadi dokter, Doakan supaya orang tua saya bisa kumpul uang.

LihatTutupKomentar

About Blog