Cerita Polisi Terpaksa Izinkan Warga Mudik, Khawatir Kelaparan jika Bertahan di Jakarta…


Cerita Polisi Terpaksa Izinkan Warga Mudik, 

Khawatir Kelaparan jika Bertahan…

Larangan mudik bagi setiap warga kini semakin ditegakkan setelah Menteri Perhubungan Ad Interem Luhut Binsar Pandjaitan mengeluarkan aturan yang tertuang dalam Pasal 6 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020.

Langkah ini diambil guna meminimalisir angka penularan virus Covid-19 di Indonesia, yang kini sudah mencapai 11, 587 kasus.

Untuk memantau adanya pergerakan pemudik, sedikitnya 175 ribu personel gabungan (Polri, TNI, Dishub, Dinkes, hingga Satpol PP) dikerahkan di setiap jalan tol maupun non-tol dalam Operasi Ketupat Jaya 2020.

Dengan mengedepankan sikap pencegahan serta penagakan hukum, para petugas tak segan-segan memberi teguran secara keras para pelanggar.

Namun, apa yang dilakukan oleh Kasatlantas Polres Metro Kota Bekasi, AKBP Ojo Ruslani dalam patroli check point di Sumber Arta, Jalan Raya Kalimalang pada Kamis (30/4/2020) lalu ini justru malah sebaliknya.

Meski jiwa tegasnya menuntut dirinya untuk menindak tegas kepada setiap pemudik yang bandel, namun ia lebih mengikuti rasa simpatinya terhadap dua orang pemudik yang berboncengan dengan sepeda motor.

“Waktu itu ada dua orang berboncengan dengan satu motor, mereka mau mudik ke Cilacap,” ujar AKBP Ojo memulai kisahnya.

Pada saat itu, seperti biasa AKBP Ojo menghampiri dua pemudik itu dan bersiap meminta untuk segera putar arah. Tapi hal itu urung ia lakukan setelah mendengar keluhan sang pemudik, dimana mereka tidak ada lagi biaya untuk hidup di Jakarta.

“Mereka mudik itu terpaksa, dia terus terang ke saya kalau kantornya sudah tutup. Dia bilang sudah tidak ada pemasukan, namun dia harus tetap makan dan bayar kosan,” ungkap AKBP Ojo.

Tapi jika mereka pulang ke kampung halaman, setidaknya mereka masih memiliki harapan untuk menyambung hidup, meski hanya menyantap singkong.

“Dia bilang gini ke saya ‘Di Cilacap di rumah orangtua bisa gabung dengan orangtua, kalau saya enggak makan di sana ada orangtua, makan singkong di sana masih bisa hidup’,” kata AKBP Ojo menirukan perkataan pemudik itu.

“‘Kalau Bapak jegat saya, sementara saya di Jakarta makan harus bayar sendiri, Bapak memang mau tanggung jawab dan kasih makan saya?’. Dia bilang gitu sambil wajahnya sangat sedih,” sambungnya.

Karena itulah, AKBP Ojo akhirnya mengizinkan keduanya untuk meneruskan perjalanannya menuju kampung halaman.

LihatTutupKomentar

About Blog