Gara Gara Tak Ada Penumpang, Kakek Pengayuh Becak di Semarang ini Tak Bisa Makan


Satu per satu warga mulai kehilangan sumber mata pencaharian akibat pandemi Covid-19. Pekerja sektor informal adalah orang yang paling terkena dampaknya, mengingat pekerjaan mereka tidak dapat diselesaikan di dalam rumah.

Ashadi (60), merupakan salah satu warga di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang sedang dibuat kebingungan karena pekerjaannya sebagai pengayuh becak kini sepi dari pelanggan.

Otomatis, hal tersebut membuat pendapatannya berkurang, bahkan tidak ada sama sekali.

“Sebelum ada corona ada pemasukan dikit-dikit bisa sampai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 setiap hari. Tapi sejak corona sepi, ini aja satu hari enggak narik paling cuma dapat Rp 10.000 sehari,” keluh pria paruh baya tersebut, dilansir dari Kompas.com.

Untung saja, dia kerap mendapat bantuan dari para dermawan, yang memberikan sedekah berupa makanan.

“Dapat akan siang dari mobil-mobil yang lewat berhenti terus kasih makanan. Itu pun kadang-kadang,” ucapnya.

Mengenai program bantuan pemerintah di tengah wabah corona, diakui oleh Ashadi, bahwa dia belum mendapatkan bantuan secara langsung. Bantuan itu hanya sering didengarnya, namun hingga kini tak pernah menyasar padanya.

Dan seperti warga kebanyakan, Ashadi juga sangat berharap pandemi corona ini segera berakhir agar situasi dan kondisi di Tanah Air berangsur membaik.

“Pengennya kembali dapat penghasilan untuk bisa nafkahi keluarga di rumah. Enggak bisa pulang karena enggak dapet uang. Paling bisa sebulan sekali ketemu keluarga di rumah,” tutur pria tua yang sudah 10 tahun menjadi pengayuh becak tersebut.

LihatTutupKomentar

About Blog